Cinta Gen Z dan Cancel Culture: Ketika Pacar Kena Call Out di X - genzii

11/04/25

Cinta Gen Z dan Cancel Culture: Ketika Pacar Kena Call Out di X

Hai, bestie! Balik lagi sama Zia, your resident Gen Z yang selalu siap berbagi cerita dan insight seputar kehidupan kita yang serba digital ini. Hari ini, sambil ditemani Momo yang lagi anteng bobo di pangkuanku (gemes banget!), aku pengen ngobrolin topik yang mungkin lagi sering banget kita denger, bahkan mungkin dialami sendiri: Cinta dan Cancel Culture.

Buat kita generasi Z, media sosial udah kayak napas kedua. Dari bangun tidur sampe mau tidur lagi, rasanya jari ini nggak bisa lepas dari scroll TikTok, Instagram, atau yang lagi rame banget nih, X (dulu Twitter). Kita berbagi momen, opini, bahkan nggak jarang, drama-drama kecil (atau gede sekalian!). Tapi, di balik semua keseruan itu, ada satu fenomena yang menurutku cukup bikin deg-degan, apalagi kalau udah nyangkut urusan hati: cancel culture.

Nah, kali ini aku nggak cuma mau ngomongin dari sudut pandang netizen yang suka kepo, tapi dari pengalaman pribadi. Jujur aja, beberapa waktu lalu, pacarku… sebut aja namanya Arya… kena call out di X. Yes, you read that right. Pacarku yang biasanya cuma posting meme receh dan update soal game kesukaannya, tiba-tiba jadi bahan perbincangan (yang sayangnya nggak positif) di jagat maya.

Gimana ceritanya? Well, Arya ini emang orangnya kadang suka spontaneous dan ceplas-ceplos. Suatu malam, dia ikutan nimbrung di sebuah thread yang lagi viral. Awalnya sih biasa aja, dia cuma ngasih komentar yang menurut dia lucu. Tapi, ternyata, komentarnya itu dianggap menyinggung oleh sebagian orang. Nggak lama kemudian, screenshot komentarnya udah nyebar ke mana-mana, lengkap dengan berbagai macam hujatan dan unfollow. Bahkan, ada yang sampai bikin thread khusus buat ngebahas “kesalahan” Arya. Drama alert!

Sebagai pacarnya, tentu aja aku kaget banget. Kayak… ini beneran Arya yang aku kenal? Kok bisa sih dia jadi sasaran cancel culture gini? Perasaan baru kemarin masih ketawa-ketiwi nonton live streaming bareng. Tapi, kenyataannya, layar HP-ku penuh dengan notifikasi yang isinya nggak enak dibaca.

Di momen itu, jujur aja, perasaanku campur aduk. Ada rasa kaget, bingung, malu (sedikit, hehe), dan yang paling utama, khawatir sama Arya. Aku jadi mikir, gimana ya perasaannya sekarang? Apa dia baik-baik aja? Dan yang lebih bikin overthinking, apakah kejadian ini bakal mempengaruhi hubungan kita?

Bestie, aku yakin banyak dari kalian yang pernah ngalamin atau setidaknya punya teman yang pernah ada di posisi Arya. Di era media sosial yang serba cepat dan tanpa batas ini, satu kesalahan kecil aja bisa jadi bola salju yang menggelinding besar. Apalagi kalau udah kena cancel culture, rasanya kayak dihakimi oleh seluruh dunia.

Cinta dan Cancel Culture


Apa Itu Cancel Culture dan Kenapa Bisa Sepedas Ini?

Sebelum kita lanjut ke ceritaku dan Arya, mungkin ada baiknya kita bahas dulu, sebenarnya apa sih cancel culture itu? Secara sederhana, cancel culture adalah sebuah fenomena di mana seseorang (biasanya figur publik atau orang yang dianggap melakukan kesalahan atau tindakan kontroversial) mendapatkan hujatan, kritikan pedas, bahkan boikot dari masyarakat, terutama di media sosial. Tujuannya? Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas perbuatan mereka.

Awalnya, ide di balik cancel culture ini mungkin terdengar bagus. Kita jadi punya kekuatan untuk menyuarakan ketidaksetujuan terhadap perilaku yang dianggap salah atau merugikan. Tapi, dalam praktiknya, cancel culture seringkali berubah jadi ajang perburuan massa yang nggak kenal ampun. Satu kesalahan bisa menghancurkan reputasi, karir, bahkan kesehatan mental seseorang.

Kenapa cancel culture ini bisa sepedas ini, terutama di kalangan Gen Z? Menurut pengamat media sosial, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya:

  • Keterikatan dengan Nilai dan Identitas: Gen Z dikenal sebagai generasi yang sangat peduli dengan isu-isu sosial, keadilan, dan kesetaraan. Ketika ada seseorang yang dianggap melanggar nilai-nilai tersebut, reaksinya bisa sangat kuat karena dianggap mengancam identitas dan keyakinan mereka.
  • Kemudahan Akses dan Anonimitas: Media sosial memberikan platform bagi siapa saja untuk menyampaikan pendapat, bahkan secara anonim. Hal ini seringkali membuat orang lebih berani (atau mungkin lebih kejam) dalam memberikan komentar tanpa memikirkan dampaknya.
  • Budaya Online Shaming: Ada semacam kepuasan tersendiri bagi sebagian orang ketika bisa “menghukum” orang lain secara publik. Fenomena ini seringkali didorong oleh rasa frustrasi atau ketidakberdayaan dalam kehidupan nyata.
  • Algoritma Media Sosial: Algoritma media sosial cenderung memperkuat konten yang mendapatkan banyak interaksi, termasuk konten negatif atau kontroversial. Hal ini bisa membuat sebuah isu kecil menjadi viral dengan sangat cepat dan sulit dikendalikan.
  • Rasa Solidaritas (yang Kadang Keliru): Ketika ada seseorang yang di-call out, seringkali muncul rasa solidaritas dari orang-orang yang memiliki pandangan serupa. Sayangnya, solidaritas ini kadang malah berubah jadi bullying massal.

Ketika Pacar Ikut Terseret Arus:

Balik lagi ke ceritaku tentang Arya. Setelah komentarnya viral dan dia mulai menerima banyak hate comment, dia langsung down banget. Dia jadi lebih pendiam, nggak nafsu makan, bahkan sampai nggak mau keluar kamar. Sebagai pacar, tentu aja aku ikut ngerasain kesedihannya. Aku jadi bingung, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus ikut-ikutan nge-hate dia (ya jelas nggak lah!), atau pura-pura nggak tahu apa-apa?

Setelah beberapa hari mencoba mencerna semuanya, aku akhirnya memutuskan untuk ngajak Arya ngobrol dari hati ke hati. Awalnya dia agak tertutup, mungkin malu atau takut aku juga bakal nge- judge dia. Tapi, perlahan-lahan, dia mulai mau cerita.

Ternyata, komentar yang dia tulis itu memang nggak bermaksud untuk menyinggung siapapun. Dia cuma pengen ikut meramaikan thread yang lagi viral dengan jokes ala dia. Tapi, sayangnya, jokes-nya itu disalahartikan dan dianggap nggak sensitif. Dia sendiri juga kaget dan menyesal banget udah nulis komentar itu.

Di situ aku mulai mikir, cancel culture ini memang mengerikan ya. Satu kesalahan kecil, yang mungkin bahkan nggak disengaja, bisa langsung menghancurkan reputasi seseorang. Arya yang aku kenal itu orangnya baik, lucu, dan nggak pernah punya niat buruk sama siapapun. Tapi, gara-gara satu komentar di media sosial, dia jadi dicap negatif oleh banyak orang yang bahkan nggak mengenalnya secara pribadi.

Dilema Seorang Pacar: Antara Dukungan dan Pertanyaan:

Sebagai pacar, aku tentu pengen banget mendukung Arya. Aku pengen ada di sampingnya, nguatin dia, dan bilang kalau semua ini bakal baik-baik aja. Tapi, di sisi lain, aku juga nggak bisa bohong kalau aku juga punya pertanyaan di benakku. Apakah komentar Arya itu memang benar-benar nggak ada maksud buruk? Apakah aku harus membela dia di depan teman-teman dan keluargaku? Apakah kejadian ini akan mempengaruhi pandangan orang lain terhadapku juga?

Ini adalah dilema yang menurutku sering dihadapi oleh pasangan Gen Z di era cancel culture. Kita dituntut untuk selalu mendukung pasangan kita, tapi di saat yang sama, kita juga punya tanggung jawab terhadap nilai-nilai yang kita yakini. Apalagi kalau kesalahan pasangan kita itu cukup besar dan menyangkut isu-isu sensitif.

Di momen itu, aku mencoba untuk bersikap bijak. Aku nggak langsung membela Arya tanpa tahu duduk perkaranya. Aku dengerin penjelasannya, aku coba pahami konteksnya, dan aku juga nggak ragu untuk bertanya kalau ada hal yang menurutku kurang pas.

Aku juga mencoba untuk melihat masalah ini dari berbagai sudut pandang. Aku baca komentar-komentar yang ada di X, aku coba pahami kenapa banyak orang yang merasa tersinggung dengan komentar Arya. Meskipun aku nggak setuju dengan cara mereka menyampaikan kritiknya yang cenderung menghakimi, aku juga nggak bisa mengabaikan fakta bahwa komentar Arya memang kurang tepat.

Menavigasi Badai: Langkah-Langkah yang Kami Ambil:

Setelah ngobrol panjang lebar, aku dan Arya akhirnya sepakat untuk mengambil beberapa langkah untuk menghadapi badai cancel culture ini:

  1. Arya Mengakui Kesalahannya dan Minta Maaf: Langkah pertama yang Arya lakukan adalah mengakui kesalahannya secara terbuka. Dia membuat sebuah postingan di X yang isinya permintaan maaf kepada semua pihak yang merasa tersinggung dengan komentarnya. Dia menjelaskan bahwa dia nggak punya maksud buruk dan berjanji untuk lebih berhati-hati dalam berinteraksi di media sosial ke depannya.
  2. Aku Memberikan Dukungan Tanpa Membenarkan Kesalahan: Sebagai pacar, aku memberikan dukungan moral kepada Arya. Aku bilang aku mengerti perasaannya dan aku akan selalu ada di sampingnya. Tapi, aku juga menegaskan bahwa aku nggak membenarkan komentarnya yang kurang tepat. Aku bilang ke dia, ini adalah kesempatan untuk belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik.
  3. Kami Membatasi Diri dari Media Sosial: Untuk sementara waktu, kami berdua sepakat untuk mengurangi aktivitas di media sosial. Ini kami lakukan untuk menghindari semakin banyak komentar negatif dan juga untuk memberikan waktu bagi Arya untuk memulihkan diri.
  4. Kami Fokus pada Komunikasi dan Kedekatan: Di tengah badai ini, kami justru jadi lebih sering ngobrol dan menghabiskan waktu bersama. Kami saling menguatkan, saling mendengarkan, dan mencoba untuk tetap menjaga hubungan kami tetap positif.
  5. Kami Belajar dari Pengalaman Ini: Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi kami berdua. Arya jadi lebih sadar akan pentingnya berhati-hati dalam berinteraksi di media sosial, dan aku juga belajar tentang bagaimana cara mendukung pasangan di saat-saat sulit.

Lebih Dalam: Dampak Cancel Culture pada Hubungan Gen Z:

Pengalaman yang aku alami bersama Arya ini hanyalah satu contoh kecil dari bagaimana cancel culture bisa mempengaruhi hubungan cinta di kalangan Gen Z. Menurutku, ada beberapa dampak signifikan yang perlu kita sadari:

  • Tekanan Eksternal yang Meningkat: Di era media sosial, hubungan kita nggak hanya jadi urusan berdua. Setiap postingan, setiap komentar, bahkan setiap like bisa jadi bahan perbincangan dan penilaian dari orang lain. Ketika salah satu pasangan terkena call out, tekanan eksternal ini bisa semakin besar dan menguji ketahanan hubungan.
  • Ketidakpercayaan dan Keraguan: Ketika pasangan kita melakukan kesalahan di media sosial, apalagi kalau kesalahannya itu cukup besar, nggak jarang kita jadi merasa ragu dan nggak percaya lagi sama dia. Kita jadi bertanya-tanya, apakah kita benar-benar mengenal orang ini? Apakah ada sisi lain dari dirinya yang selama ini kita nggak tahu?
  • Perbedaan Pandangan dan Nilai: Cancel culture seringkali dipicu oleh perbedaan pandangan dan nilai. Ketika pasangan kita memiliki pandangan yang berbeda dengan kita atau dengan mayoritas netizen, ini bisa menimbulkan konflik dalam hubungan. Kita jadi harus mempertimbangkan, apakah perbedaan ini masih bisa ditoleransi atau justru menjadi jurang pemisah?
  • Kecemasan dan Ketidakamanan: Hidup di era cancel culture bisa membuat kita jadi lebih cemas dan nggak aman dalam berhubungan. Kita jadi takut kalau pasangan kita (atau bahkan diri kita sendiri) melakukan kesalahan yang bisa berujung pada call out dan merusak hubungan.
  • Pentingnya Transparansi dan Kejujuran: Di tengah tekanan cancel culture, transparansi dan kejujuran dalam hubungan menjadi semakin penting. Kita harus bisa terbuka dan jujur dengan pasangan kita tentang apa yang kita rasakan dan pikirkan, tanpa takut dihakimi.

Tips untuk Menghadapi Drama Media Sosial dalam Hubungan:

Belajar dari pengalamanku dan Arya, aku pengen berbagi beberapa tips yang mungkin bisa berguna buat kalian yang lagi menghadapi drama media sosial dalam hubungan:

  1. Prioritaskan Komunikasi yang Sehat: Ketika ada masalah, jangan langsung berasumsi atau termakan oleh opini netizen. Ajak pasanganmu ngobrol secara terbuka dan jujur. Dengarkan penjelasannya tanpa menghakimi dan coba pahami sudut pandangnya.
  2. Bangun Kepercayaan yang Kuat: Kepercayaan adalah fondasi utama dalam sebuah hubungan. Ketika pasanganmu melakukan kesalahan, berikan dia kesempatan untuk menjelaskan dan bertanggung jawab. Tapi, di saat yang sama, jangan ragu untuk menyampaikan kekecewaanmu jika memang ada.
  3. Tetapkan Batasan yang Jelas: Diskusikan dengan pasanganmu tentang batasan-batasan dalam bermedia sosial. Apa saja yang boleh dan tidak boleh diposting? Bagaimana cara kalian berdua menanggapi komentar negatif? Dengan adanya batasan yang jelas, kalian bisa lebih mudah menghindari drama yang nggak perlu.
  4. Dukung Pasanganmu (dengan Bijak): Ketika pasanganmu terkena call out, berikan dia dukungan moral. Tapi, ingatlah untuk tetap bersikap bijak. Jangan membela kesalahan pasanganmu secara membabi buta. Ingatkan dia untuk bertanggung jawab atas perbuatannya dan belajar dari pengalamannya.
  5. Fokus pada Hubungan Kalian, Bukan Opini Orang Lain: Ingatlah bahwa hubungan kalian adalah urusan kalian berdua. Jangan biarkan opini netizen atau tekanan dari luar mempengaruhi kebahagiaan kalian. Selama kalian berdua saling mencintai, menghormati, dan mendukung, kalian pasti bisa melewati badai apapun.
  6. Jaga Kesehatan Mental: Drama media sosial bisa sangat menguras energi dan emosi. Jangan ragu untuk mengambil jeda dari media sosial jika kalian merasa overwhelmed. Prioritaskan kesehatan mental kalian berdua dan cari cara untuk saling menenangkan dan menghibur.
  7. Jadikan Pengalaman Ini Sebagai Pelajaran: Setiap masalah yang kita hadapi dalam hubungan bisa menjadi kesempatan untuk belajar dan tumbuh bersama. Jadikan pengalaman cancel culture ini sebagai pelajaran berharga untuk lebih memahami satu sama lain dan memperkuat hubungan kalian.

Momo Bilang…

Tiba-tiba Momo meong pelan, kayaknya dia juga mau ikutan nimbrung nih. Kalau Momo bisa ngomong, mungkin dia bakal bilang, “Manusia itu memang suka drama ya. Udah mendingan bobo siang aja kayak aku, nggak ada tuh yang namanya cancel culture.” Ada benarnya juga sih kata Momo (dalam hati). Kadang, kita memang terlalu fokus sama dunia maya sampai lupa sama dunia nyata di sekitar kita.

Cinta di Era Digital Memang Penuh Tantangan, Tapi…

Bestie, hidup di era digital ini memang penuh dengan tantangan, terutama dalam urusan cinta. Cancel culture hanyalah salah satu dari sekian banyak drama yang mungkin akan kita hadapi. Tapi, aku percaya, selama kita punya komunikasi yang baik, kepercayaan yang kuat, dan kemauan untuk saling memahami, kita pasti bisa melewati semua itu.

Ingatlah, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Yang terpenting adalah bagaimana kita belajar dari kesalahan tersebut dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan biarkan satu kesalahan di media sosial menghancurkan hubungan yang sudah kalian bangun dengan susah payah.

Semoga cerita dan insight dari aku kali ini bisa bermanfaat buat kalian ya. Jangan lupa untuk selalu bijak dalam bermedia sosial dan tetap fokus pada hubungan yang sehat dan bahagia. Sampai ketemu di blog post selanjutnya! Ciao!

Share with your friends

Featured

[Featured][recentbylabel]